Rabu, 28 Januari 2015

PENANAMAN (PENDIDIKAN) KARAKTER DI KELUARGA

Oleh: Jasman, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Toboali

Untuk membangun bangsa yang unggul, maka pembenahan perlu dilakukan sejak dini. Pendidikan di sekolah maupun di rumah (keluarga) merupakan salah satu wadah atau sumber belajar dalam membentuk karakter masyarakat yang ideal. Sebagaimana ungkapan Dr. Martin Luther King, pendidikan mempunyai tujuan mulia yang melahirkan manusia cerdas dan berkarakter kuat. Begitu juga menurut Ho Chi Mien, Bapak Pendidikan Vietnam. Beliau berpesan bahwa pendidikan mutlak diperlukan dalam rangka membangun kondisi sosial-ekonomi suatu bangsa. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan (karakter) mempunyai peran strategis dalam menentukan arah pembangunan suatu bangsa.  Pendidikan karakter harus mulai diterapkan dalam setiap dunia kehidupan anak-anak, mulai dari keluarga, sekolah, bahkan di lingkungan bermainnya.
Pendidikan Karakter di Keluarga
            Keluarga adalah lembaga sosial yang pertama dalam masyarakat (WA. Gerungan). KH Abdullah Gimnastiyar atau Aa’ Gym menggeneralisasikan keluarga sebagai sebuah organisasi kecil yang terdiri atas pemimpin (ayah sebagai kepala rumah tangga) dan terpimpin (ibu dan anak). Keluarga terbentuk karena dua hal, yaitu hubungan pernikahan dan hubungan darah. Hubungan pernikahan terbentuk dalam hubungan suami dan istri. Sedangkan hubungan darah terjadi antara ayah, ibu, dan anak-anak. Hubungan ini akan terjadi dalam jangka waktu lama. Setiap keluarga kemudian bersatu membentuk sebuah masyarakat.
            Keluarga mempunyai peran vital dalam pembangunan sebuah bangsa. Anak yang berasal dari keluarga yang baik akan terbentuk menjadi manusia yang baik. Anak inilah yang akan menjadi penerus pembangunan bangsa nantinya. Sebaliknya, anak yang berasal dari didikan keluarga yang broken home akan terbentuk menjadi anak yang tidak berkembang. Anak seperti ini tidak mampu melakukan pembangunan terhadap bangsa dan negaranya.
            Oleh sebab itu, peran keluarga harus dioptimalkan dalam pembentukan karakter seorang anak. Untuk itu, keluarga harus mampu memerankan 10 fungsinya (Syarbini, 2013) yakni Fungsi reproduksi, Fungsi edukasi, Fungsi proteksi , Fungsi afeksi, Fungsi sosialisasi, Fungsi religi, Fungsi ekonomi, Fungsi biologi, Fungsi transformasi, dan Fungsi rekreasi.
            Fungsi edukasi menempatkan keluarga sebagai lembaga pendidikan informal. Keluarga menjadi awal penanaman pengetahuan, sikap dan keterampilan anak. Keluarga mempunyai peran penting terhadap perkembangan pengetahuan anak. Fungsi proteksi maksudnya bahwa keluarga mempunyai kekuatan untuk memberikan rasa aman dan melindungi anggotanya dari berbagai macam gangguan lahir dan bathin. Fungsi afeksi akan memberikan rasa kasih sayang, kebersamaan, dan ikatan bathin kepada seluruh anggotanya. Sebagai lembaga sosialiasi, keluarga mempunyai fungsi untuk melatih anak bersosialisasi atau bergaul dengan orang lain.
            Fungsi keluarga yang sangat penting adalah fungsi religi. Keluarga mempunyai tanggung jawab mengenalkan konsep ketuhanan dan pelaksanaan ibadah keagamaan kepada anggota keluarga. Keluarga wajib menanamkan semangat ketuhanan yang benar kepada anak-anak. Fungsi ekonomi, fungsi biologi, dan fungsi rekreasi merupakan fungsi keluarga dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Sedangkan fungsi transformasi adalah fungsi keluarga dalam mentransfer nilai-nilai keluarga kepada anak cucunya.         
            Seluruh fungsi keluarga secara bersinergi membantu penanaman nilai pendidikan karakter bagi anak-anak. Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga mencakup aspek-aspek afektif, kognitif, dan psikomotor. Menurut Syarbini (2014: 40), nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan dalam pendidikan karakter di keluarga meliputi keimanan dan ketaqwaan, kejujuran, disiplin, percaya diri, tanggung jawab, rasa keadilan, sopan santun, pemaaf, sabar, dan peduli. Nilai-nilai karakter ini dikembangkan dari ajaran agama, filsafat bangsa, serta nilai kearifan lokal suatu masyarakat.
            Sejalan dengan tujuan pendidikan secara umum, pendidikan karakter pada hakekatnya bertujuan menciptakan manusia yang cerdas pikiran, moral dan spiritualnya, berbudi pekerti yang luhur, taat menjalankan perintah agama, serta mempunyai mental yang terpuji. Namun secara khusus, penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga bertujuan untuk menciptakan anak menjadi manusia yang berakhlak mulia, taat kepada perintah agamanya (baca: Allah dan Rasul) serta menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.
            Untuk mencapai tujuan di atas, penanaman pendidikan karakter di keluarga dapat dilakukan oleh dua pelaku.  Pelaku pertama adalah keluarga inti (orang tua dan kakak adik). Ada dua alasan, yaitu orang tua telah dikodratkan untuk mendidik anak-anak yang dilahirkannya serta aspek kepentingan orang tua terhadap kesuksesan anak-anaknya (Tafsir, 2004: 74). Orang tua sangat bertanggung jawab menjadikan anak-anaknya menjadi insan yang berguna.
            Pelaku kedua, keluarga besar. Maksud keluarga besar disini adalah kakek, nenek, paman, bibi, saudara-saudara lainnya. Unsur-unsur ini bisa berpengaruh terhadap keberhasilan penanaman karakter di lingkungan keluarga. Ketika orang tua mengajarkan untuk sholat, tetapi di sisi lain anak-anak melihat kakek atau paman atau bibi tidak shalat, maka kepekaan anak untuk menuruti perintah orang tua akan sedikit goyah. Mereka bisa berdalih mengapa mereka saja yang shalat sedangkan orang lain tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, perlu ada kesamaan pikiran, visi dan misi antara kedua pelaku di atas agar penanaman karakter di lingkungan keluarga berjalan secara utuh.
            Selain contoh mengajarkan ibadah, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga mengutamakan pendidikan akhlak mulia. Dalam peran menjadi seorang guru, Orang tua harus mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anak-anaknya. Karena sebagai seorang peserta didik, anak-anak mengikuti penuh apa yang dilakukan dan dikatakan oleh gurunya (orang tuanya).
            Ibarat kurikulum dalam pendidikan formal, Orang tua harus mengajarkan materi-materi tentang sopan santun, cara berbicara yang sopan, berjalan yang benar, berkomunikasi yang sopan, bertanggung jawab, bersikap jujur, suka membantu orang lain, serta pengajaran-pengajaran lainnya.  Jika dikaitkan dengan pengetahuan majemuk-nya Howard Gardner, pendidikan karakter di keluarga cenderung bertujuan meningkatkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal.
            Menurut Syarbini (2014), dalam bukunya membagi menjadi tujuh metode yang bisa digunakan untuk menanamkan karakter pada anak, yaitu:
1.        Metode internalisasi, yaitu memasukkan pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri seseorang untuk menjadi kepribadiannya sehari-hari.
2.        Metode keteladanan, yaitu metode pengajaran dengan cara memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anak-anak. Anak-anak akan meniru apa saja yang dilakukan dan apa saja yang dikatakan oleh orang tuanya. Jika orang tua berkata dan berlaku baik, maka baiklah yang ditiru anak-anaknya. Sebaliknya, jika orang tuanya sering berkata dan berlaku kurang baik, maka mereka akan berlaku dan berkata seperti orang tuanya tersebut.
3.        Metode pembiasaan. Pembiasaan merupakan cara orang tua untuk mengajarkan anak-anak untuk melakukan sesuatu. Pembiasaan dapat menanamkan rasa tanggung jawab anak atas pekerjaan atau rutinitas tersebut. Sebagai contoh pembiasaan shalat tepat waktu dapat mendidik anak untuk disiplin.
4.        Metode bermain. Kadangkala anak-anak merasa bosan dengan rutinitas serta aturan-aturan yang ketat. Baik di rumah maupun di sekolah anak-anak biasanya terikat oleh sebuah tatanan atau aturan. Metode bermain menjadi salah satu alternatif bagi orang tua untuk menanamkan karakter kepada anak. Tanpa mereka sadar, kegiatan bermain-main sebenarnya mengajarkan mereka karakter yang sangat penting. Sifat sportifitas, kerja sama, komunikasi merupakan bagian kecil dari pendidikan karakter dalam bermain.
5.        Metode bercerita. Ketika kita masih kecil, sering kali orang tua senang menceritakan sebuah dongeng kepada anak-anak mereka. Di dalam cerita tersebut orang tua bisa menyelipkan penanaman karakter kepada anak. Misalnya cerita kancil dan monyet yang berisi nasehat untuk hidup jujur. Cerita kancil dan kura-kura menanamkan karakter tidak sombong, dan sebagainya.
6.        Metode nasehat. Nasehat bisa diberikan secara langsung oleh orang tua kepada anaknya tanpa melalui perantara atau media bantu. Nasehat merupakan pesan-pesan orang tua secara langsung kepada anak tentang apa yang baik dan yang buruk untuk dikerjakan.
7.        Metode hadiah dan hukuman. Kadangkala kita sering mengabaikan metode reward and punishment. Kita terlalu sering memberikan hukuman kepada anak ketika mereka dinilai bersalah. Namun, ketika mereka memperoleh prestasi kita jarang memberikan hadiah (reward). Kata reward tidak terbatas pada hadiah yang berupa fisik, tetapi bisa diaplikasikan dalam bentuk pujian, tepuk tangan, pelukan, ciuman. Dengan cara seperti ini kita mendidik mereka menjadi orang yang bisa menghargai orang lain.  

1 komentar :

  1. Casino.com Review - Wooricasinos
    Read our 포커 고수 review 경주 출장마사지 about what you need to know about the casino and how you can claim 광명 출장마사지 your bonus. We review 동해 출장마사지 the games, bonuses and payouts in the UK. 대전광역 출장마사지

    BalasHapus