KEGIATAN PEMBINAAN GURU RA DAN MADRASAH

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Harus, S.Pd.I didampingi Kasi PAKIS H.M. Karyawan, S.Ag membuka kegiatan Pembinaan Guru RA dan Madrasah

Pelantikan Pejabat

Kepala Kantor Kemenag Bangka Selatan Syarifudin, S.Ag., M.Pd.I memimpin pengucapan sumpah jabatan untuk pejabat yang dilantik

Foto Bersama

Pejabat yang dilantik berfoto bersama dengan Kakanwil Kemenag Prov. Babel Prof. DR. H. Hatamar, M.Ag, Kakankemenag Basel Syarifudin, S.Ag., M.Pd.I dan Kasubbag TU Kankemenag Basel H. Agus Sadimin, S.Ag., M.Pd.I

UPACARA BULANAN

Peserta upacara

Rabu, 08 April 2015

LAPORAN KEGIATAN PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN KEPALA SEKOLAH/MADRASAH (PKB-KS/M



Foto : Bapak. Robinson Sedang memaparkan hasil kegiatan OJL (On the Job Learning).
Pangkalpinang(8/4/2015), Bertempat di LPMP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali diadakan kegiatan pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Kepala Sekolah/Madrasah In Service Learning 2 sebagai program lanjutan dari kegiatan serupa In Service Learning-1 program ProDEP yang telah diadakan beberapa bulan yang lalu di Hotel Novella Sungailiat Bangka. Program ini bersumber dari bantuan dana Hibah kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia.

Kegiatan yang dilaksanakan dari Tanggal 7 s.d 9 April ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kinerja profesional kepala sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik.
Sasaran kegiatan ini adalah kepala sekolah/madrasah dari masing-masing kabupaten yang terlibat dalam program PKB-ISL-1 (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan- In Service Learning-1.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini kemarin sore (7 April 2015) mengharapkan kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi siswa, bagi guru dan bagi Kepala Sekolah/Madrasah itu sendiri, serta dapat memberikan manfaat bagi orangtua, masyarakat dan bagi pemerintah untuk memetakan kualitas layanan pendidikan sebagai upaya pembinaan, pengembangan, dan peningkatan kinerja pelayanan pendidikan yang berkualitas. (Reported By Robinson)

Senin, 06 April 2015

PERGANTIAN KEPALA MIN PANGKAL BULUH

 
Pangkal Buluh(6/4/2015), bertempat di aula MIN Pangkal Buluh, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka Selatan Syarifudin, S.Ag., M.Pd.I Melantik Herlina Agustina, S.Pd sebagai Kepala MIN Pangkal Buluh yang baru menggantikan Ahmad Fauzili, S.Pd.I yang telah 2 periode memimpin MIN Pangkal Buluh. Promosi jabatan di pemerintahan adalah suatu hal yang biasa, yang tergantikan bukan berarti sudah terbuangkan tetapi karena memang sistem yang mengharuskan diganti, dan yang terpilih harus mampu meneruskan kebijakan-kebijakan yang sudah dianggap bagus dan memperbaiki sistem yang dianggap belu sesuai.
pelantikan hari ini juga dihadiri oleh Ka Subbag TU Kantor Kemenag Kab. Bangka Selatan H. Agus Sadimin, S.Ag., MH dan pengawas tingkat dasar Drs. Jaya. semoga dengan adanya pergantian puncuk pimpinan kali ini, MIN Pangkal Buluh makin bisa menunjukkan karyanya. (cikghusoedi)

Kamis, 12 Maret 2015

EMIS MULAI LAGI






Toboali(12/03/2015), bertempat di aula Kantor Kementerian Agama Kab. Bangka Selatan pada hari Rabu 11 Maret 2015, Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Kab. Bangka Selatan melalui operator EMIS Madrasah Kantor Kemenag Kab . Bangka Selatan melaksanakan sosialisasi dan pelatihan singkat pendataan EMIS Semester Genap. Kegiatan ini menindaklanjuti dari surat dari tim EMIS pusat tentang pelaksanaan pendataan EMIS Semester Genap.
Pada sosialisasi ini, Operator EMIS Madrasah Kab. Bangka Selatan Sudiarto, S.Pd bertindak sebagai pembicara tunggal dikarenakan ketiadaan dana yang diakibatkan belum selesai proses revisi anggaran DIPA Pendis Basel, hal ini juga dikarenakan Kepala Kantor Kemenag Kab. Bangka Selatan Syarifudin, S.Ag., M.Pd.I tengah dinas luar mengikuti DDTK yang diselenggarakan oleh BDK Palembang di Kanwil Kemenag Babel dan Kasi Pendidikan Madrasah Harus, S.Pd.I pada saat yang bersamaan tengah melaksanakan kunjungan ke MA Al Hidayah dalam rangka meninjau pelaksanaan UAMBN 2015.
Pada kesempatan ini, operator EMIS Madrasah Basel, Sudiarto, S.Pd mengharapkan kepada seluruh operator EMIS Madrasah agar dapat lebih serius dalam menghadirkan data Pendis terutama data madrasah masing-masing yang valid dan akuntabel, karena selama ini menurut pengamatan Sudiarto, S.Pd masih banyak operator madrasah yang asal isi dalam menginput data. Hal ini akan berdampak akan kacaunya data yang tersedia, padahal hadirnya EMIS ini diharapkan dapat menjadi Bank Data bagi Dirjen Pendidikan Islam dalam melaksanakan pemetaan terhadap kebutuhan anggaran Pendidikan Islam. Lebih lanjut lagi, Sudiarto, S.Pd mengatakan bahwa seluruh operator harus bersyukur dengan disetujuinya anggaran untuk Honor Operator EMIS pada tingkat RA dan Madrasah, walaupun uang yang tersedia tidak begitu banyak tapi hal ini patut disyukuri karena mungkin hanya di Bangka Selatan Operator EMIS mendapatkan honor tersebut. Semoga dengan adanya anggaran tersebut seluruh operator EMIS dapat lebi giat lagi dalam menghadirkan data EMIS yang valid dan akuntabel seperti harapan dari Tim EMIS Kabupaten, Provinsi Maupun Pusat. (cikghusoedi)

Selasa, 17 Februari 2015

UPACARA BULANAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BANGKA SELATAN

Toboali (17/02/2015), sesuai dengan surat edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, bahwa setiap tanggaln 17 bulan berjalan setiap satker diwajibkan untuk melaksanakan kegiatan upacara bulanan. Hal ini yang menjadi acuan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka Selatan untuk melaksanakan intruksi tersebut. Upacara yang dilaksanakan hari ini merupakan upacara bulanan yang ke dua yang dilaksanakan pihak kantor kementerian agama kabupaten Bangka Selatan.
Pada upacara bulanan kali ini yang bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Kasubbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangka Selatan H. Agus Sadimin, S.Ag., M.H., sedangkan yang bertindak sebagai pemimpin apel adalah Alip, S.H.I. Dalam sambutannya Pembina upacara menyampaikan mengenai disiplin. Menurut beliau dengan diterapkannya reformasi birokrasi dan diberikannya tunjangan kinerja kepada pegawai Kementerian Agama berdampak kepada adanya tuntutan kepada para pegawai untuk lebih rajin dan giat lagi dalam bekerja. Tunjangan kinerja ini lanjut beliau diberikan berdasarkan 2 penilaian utama kepada setiap pegawai, pertama absen dan yang kedua adalah kinerja pegawai tersebut. Absen dapat dilihat dari keaktifan pegawai dalam mengisi absen finger print, tetapi menurut beliau lagi, jangan sampai ada pegawai yang melaksanakan program 7.30, 00 dan 04.00, artinya absen jam 7.30 lalu pulang ke rumah dan kembali lagi ke kantor pukul 04.00 untuk absen pulang. Absen yang bisa dihitung adalah masuk jam 7.30 lalu bekerja sesuai tupoksi masing-masing lalu sampai jam 4 sore.
Kinerja setiap pegawai setiap harinya sekarang ini wajib untuk dicatatan ke dalam capaian kinerja pegawai. Karena bukun CKP inilah yang akan menjadi rujukan dalam pembayaran Tunjangan kinerja pegawai. Dalam penutupannya H. Agus Sadimin, S.Ag. M.H. menekankan kepada setiap pegawai untuk dapat lebih bertanggung jawab kepada Tupoksi masing-masing. (cikghusoedi)

Senin, 16 Februari 2015

JADWAL VERVAL NUPTK dan NRG


Toboali(16/02/2015), memasuki tahun 2015, para guru disibukkan lagi dengan verifikasi dan validasi data pada PADAMU NEGERI. berbeda dengan tahun 2014, dimana para guru hanya diwajibkan untuk memverval NUPTK, pada tahun 2015 ini bagi guru yang telah sertifikasi dan mendapatkan NRG wajib untuk memverval NRG juga. hal ini harus dapat diperhatikan oleh para Operator PADAM Madrasah, Kepala RA dan Madrasah yang terpenting untuk para PTK itu sendiri. karena kalau tidak diverval pada semester ini maka NUPTK dan NRG akan dinyatakan non aktif, maka hal ini akan berdampak kepada segala tunjangan yang ada kaitannya dengan NUPTK dan NRG, seperti Tunjangan sertifikasi, Tunjanga  Fungsional Guru Non PNS dan Tunjangan Daerah Khusus. segala tunjangan tersebut akan dihentikan pembayarannya kalau NUPTK dan NRG masing-masing PTK dinyatakan Non Aktif. adapun jadwal verval ini adalah mulai Februari sampai 15 Juni 2015.
selain itu, bagi guru yang belum memiliki NUPTK yang masa kerjanya di bawah tanggal 1 Agustus 2010, bisa untuk mengajukan NUPTK dengan cara masuk ke akun PTK Masing-masing dan mengklik kolom ajuan NUPTK baru, lalu dapat mencetak S06. S06 itu dapat diajukan ke operator PADAMU Kemenag Kab/Kota dengan dilampirkan segala sesuatu yang tertera di S06 tersebut, seperti SK GTY per di bawah 1 Agustus 2010, Ijazah Terakhir, Foto Copy Akta Yayasan yang membawahi Madrasah tempat PTK bekerja dan cetak portofolio terbaru. selanjutnya kalau berkas itu dinyatakan lengkap berkas itu sudah menjadi tanggung jawab operator Kab/Kota untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak LPMP yang menjadi pihak yang berwenang untuk mengeluarkan atau menerbitkan NUPTK. adapun jadwal pengajuan NUPTK baru adalah selama bulan Februari 2015.
sama seperti tahun kemarin, setiap PTK terutama guru wajib untuk dilakukan Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS), adapun jadwal dari PKG dan PKKS ini dilaksanakan pada akhir Mei sampai 20 Juni 2015. untuk PKG dilakukan atau dinilai oleh Kepala Madrasah atau RA atau boleh juga dilakukan oleh guru senior sedangkan PKG dan PKKS khusus Kepala RA dan Madrasah dilakukan oleh Pengawas Madrasah. Operator PADAMU NEGERI Kantor Kemenag Bangka Selatan, Sudiarto, S.Pd berharap semoga para Kepala RA dan Madrasah dapat memberikan info yang telah disampaikan kepada para PTK masing-masing. (cikghusoedi)

Rabu, 28 Januari 2015

PENANAMAN (PENDIDIKAN) KARAKTER DI KELUARGA

Oleh: Jasman, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Toboali

Untuk membangun bangsa yang unggul, maka pembenahan perlu dilakukan sejak dini. Pendidikan di sekolah maupun di rumah (keluarga) merupakan salah satu wadah atau sumber belajar dalam membentuk karakter masyarakat yang ideal. Sebagaimana ungkapan Dr. Martin Luther King, pendidikan mempunyai tujuan mulia yang melahirkan manusia cerdas dan berkarakter kuat. Begitu juga menurut Ho Chi Mien, Bapak Pendidikan Vietnam. Beliau berpesan bahwa pendidikan mutlak diperlukan dalam rangka membangun kondisi sosial-ekonomi suatu bangsa. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan (karakter) mempunyai peran strategis dalam menentukan arah pembangunan suatu bangsa.  Pendidikan karakter harus mulai diterapkan dalam setiap dunia kehidupan anak-anak, mulai dari keluarga, sekolah, bahkan di lingkungan bermainnya.
Pendidikan Karakter di Keluarga
            Keluarga adalah lembaga sosial yang pertama dalam masyarakat (WA. Gerungan). KH Abdullah Gimnastiyar atau Aa’ Gym menggeneralisasikan keluarga sebagai sebuah organisasi kecil yang terdiri atas pemimpin (ayah sebagai kepala rumah tangga) dan terpimpin (ibu dan anak). Keluarga terbentuk karena dua hal, yaitu hubungan pernikahan dan hubungan darah. Hubungan pernikahan terbentuk dalam hubungan suami dan istri. Sedangkan hubungan darah terjadi antara ayah, ibu, dan anak-anak. Hubungan ini akan terjadi dalam jangka waktu lama. Setiap keluarga kemudian bersatu membentuk sebuah masyarakat.
            Keluarga mempunyai peran vital dalam pembangunan sebuah bangsa. Anak yang berasal dari keluarga yang baik akan terbentuk menjadi manusia yang baik. Anak inilah yang akan menjadi penerus pembangunan bangsa nantinya. Sebaliknya, anak yang berasal dari didikan keluarga yang broken home akan terbentuk menjadi anak yang tidak berkembang. Anak seperti ini tidak mampu melakukan pembangunan terhadap bangsa dan negaranya.
            Oleh sebab itu, peran keluarga harus dioptimalkan dalam pembentukan karakter seorang anak. Untuk itu, keluarga harus mampu memerankan 10 fungsinya (Syarbini, 2013) yakni Fungsi reproduksi, Fungsi edukasi, Fungsi proteksi , Fungsi afeksi, Fungsi sosialisasi, Fungsi religi, Fungsi ekonomi, Fungsi biologi, Fungsi transformasi, dan Fungsi rekreasi.
            Fungsi edukasi menempatkan keluarga sebagai lembaga pendidikan informal. Keluarga menjadi awal penanaman pengetahuan, sikap dan keterampilan anak. Keluarga mempunyai peran penting terhadap perkembangan pengetahuan anak. Fungsi proteksi maksudnya bahwa keluarga mempunyai kekuatan untuk memberikan rasa aman dan melindungi anggotanya dari berbagai macam gangguan lahir dan bathin. Fungsi afeksi akan memberikan rasa kasih sayang, kebersamaan, dan ikatan bathin kepada seluruh anggotanya. Sebagai lembaga sosialiasi, keluarga mempunyai fungsi untuk melatih anak bersosialisasi atau bergaul dengan orang lain.
            Fungsi keluarga yang sangat penting adalah fungsi religi. Keluarga mempunyai tanggung jawab mengenalkan konsep ketuhanan dan pelaksanaan ibadah keagamaan kepada anggota keluarga. Keluarga wajib menanamkan semangat ketuhanan yang benar kepada anak-anak. Fungsi ekonomi, fungsi biologi, dan fungsi rekreasi merupakan fungsi keluarga dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Sedangkan fungsi transformasi adalah fungsi keluarga dalam mentransfer nilai-nilai keluarga kepada anak cucunya.         
            Seluruh fungsi keluarga secara bersinergi membantu penanaman nilai pendidikan karakter bagi anak-anak. Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga mencakup aspek-aspek afektif, kognitif, dan psikomotor. Menurut Syarbini (2014: 40), nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan dalam pendidikan karakter di keluarga meliputi keimanan dan ketaqwaan, kejujuran, disiplin, percaya diri, tanggung jawab, rasa keadilan, sopan santun, pemaaf, sabar, dan peduli. Nilai-nilai karakter ini dikembangkan dari ajaran agama, filsafat bangsa, serta nilai kearifan lokal suatu masyarakat.
            Sejalan dengan tujuan pendidikan secara umum, pendidikan karakter pada hakekatnya bertujuan menciptakan manusia yang cerdas pikiran, moral dan spiritualnya, berbudi pekerti yang luhur, taat menjalankan perintah agama, serta mempunyai mental yang terpuji. Namun secara khusus, penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga bertujuan untuk menciptakan anak menjadi manusia yang berakhlak mulia, taat kepada perintah agamanya (baca: Allah dan Rasul) serta menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.
            Untuk mencapai tujuan di atas, penanaman pendidikan karakter di keluarga dapat dilakukan oleh dua pelaku.  Pelaku pertama adalah keluarga inti (orang tua dan kakak adik). Ada dua alasan, yaitu orang tua telah dikodratkan untuk mendidik anak-anak yang dilahirkannya serta aspek kepentingan orang tua terhadap kesuksesan anak-anaknya (Tafsir, 2004: 74). Orang tua sangat bertanggung jawab menjadikan anak-anaknya menjadi insan yang berguna.
            Pelaku kedua, keluarga besar. Maksud keluarga besar disini adalah kakek, nenek, paman, bibi, saudara-saudara lainnya. Unsur-unsur ini bisa berpengaruh terhadap keberhasilan penanaman karakter di lingkungan keluarga. Ketika orang tua mengajarkan untuk sholat, tetapi di sisi lain anak-anak melihat kakek atau paman atau bibi tidak shalat, maka kepekaan anak untuk menuruti perintah orang tua akan sedikit goyah. Mereka bisa berdalih mengapa mereka saja yang shalat sedangkan orang lain tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, perlu ada kesamaan pikiran, visi dan misi antara kedua pelaku di atas agar penanaman karakter di lingkungan keluarga berjalan secara utuh.
            Selain contoh mengajarkan ibadah, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga mengutamakan pendidikan akhlak mulia. Dalam peran menjadi seorang guru, Orang tua harus mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anak-anaknya. Karena sebagai seorang peserta didik, anak-anak mengikuti penuh apa yang dilakukan dan dikatakan oleh gurunya (orang tuanya).
            Ibarat kurikulum dalam pendidikan formal, Orang tua harus mengajarkan materi-materi tentang sopan santun, cara berbicara yang sopan, berjalan yang benar, berkomunikasi yang sopan, bertanggung jawab, bersikap jujur, suka membantu orang lain, serta pengajaran-pengajaran lainnya.  Jika dikaitkan dengan pengetahuan majemuk-nya Howard Gardner, pendidikan karakter di keluarga cenderung bertujuan meningkatkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal.
            Menurut Syarbini (2014), dalam bukunya membagi menjadi tujuh metode yang bisa digunakan untuk menanamkan karakter pada anak, yaitu:
1.        Metode internalisasi, yaitu memasukkan pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri seseorang untuk menjadi kepribadiannya sehari-hari.
2.        Metode keteladanan, yaitu metode pengajaran dengan cara memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anak-anak. Anak-anak akan meniru apa saja yang dilakukan dan apa saja yang dikatakan oleh orang tuanya. Jika orang tua berkata dan berlaku baik, maka baiklah yang ditiru anak-anaknya. Sebaliknya, jika orang tuanya sering berkata dan berlaku kurang baik, maka mereka akan berlaku dan berkata seperti orang tuanya tersebut.
3.        Metode pembiasaan. Pembiasaan merupakan cara orang tua untuk mengajarkan anak-anak untuk melakukan sesuatu. Pembiasaan dapat menanamkan rasa tanggung jawab anak atas pekerjaan atau rutinitas tersebut. Sebagai contoh pembiasaan shalat tepat waktu dapat mendidik anak untuk disiplin.
4.        Metode bermain. Kadangkala anak-anak merasa bosan dengan rutinitas serta aturan-aturan yang ketat. Baik di rumah maupun di sekolah anak-anak biasanya terikat oleh sebuah tatanan atau aturan. Metode bermain menjadi salah satu alternatif bagi orang tua untuk menanamkan karakter kepada anak. Tanpa mereka sadar, kegiatan bermain-main sebenarnya mengajarkan mereka karakter yang sangat penting. Sifat sportifitas, kerja sama, komunikasi merupakan bagian kecil dari pendidikan karakter dalam bermain.
5.        Metode bercerita. Ketika kita masih kecil, sering kali orang tua senang menceritakan sebuah dongeng kepada anak-anak mereka. Di dalam cerita tersebut orang tua bisa menyelipkan penanaman karakter kepada anak. Misalnya cerita kancil dan monyet yang berisi nasehat untuk hidup jujur. Cerita kancil dan kura-kura menanamkan karakter tidak sombong, dan sebagainya.
6.        Metode nasehat. Nasehat bisa diberikan secara langsung oleh orang tua kepada anaknya tanpa melalui perantara atau media bantu. Nasehat merupakan pesan-pesan orang tua secara langsung kepada anak tentang apa yang baik dan yang buruk untuk dikerjakan.
7.        Metode hadiah dan hukuman. Kadangkala kita sering mengabaikan metode reward and punishment. Kita terlalu sering memberikan hukuman kepada anak ketika mereka dinilai bersalah. Namun, ketika mereka memperoleh prestasi kita jarang memberikan hadiah (reward). Kata reward tidak terbatas pada hadiah yang berupa fisik, tetapi bisa diaplikasikan dalam bentuk pujian, tepuk tangan, pelukan, ciuman. Dengan cara seperti ini kita mendidik mereka menjadi orang yang bisa menghargai orang lain.